sekedar KATA bukan FATWA

Munajat Cinta sang Pencari Cinta

Maret 1, 2009 · 1 Komentar

Ada sebuah cerita dari seorang teman, tentang do’a seorang hamba kepada Tuhannya :

Ada seorang hamba bernama si A meminta kepada Tuhan, seraya menjelaskan kriteria pasangan yang dia  inginkan. Dia menginginkan pasangan yang baik hati,lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai, suka cita, murah hati, penuh pengertian,  pintar, humoris dan penuh perhatian. Dia bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini dia impikan.

Sejalan dengan berlalunya waktu, si A menambahkan daftar kriteria pasangan yang diinginkannya. Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hati si A, “HambaKu,  Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan.”

Si A bertanya,  “Mengapa Tuhan?” dan Ia! menjawab, “Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil.  Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar.

Si A bertanya lagi, “Tuhan,  aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa  yang aku pinta dariMu?”

Jawab Tuhan, “Aku akan menjelaskan kepadamu.  Adalah suatu ketidakadilan dan ketidakbenaran bagiKu untuk memenuhi keinginanmu  karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah  adil bagiKu untukmemberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu  jika terkadang engkau masih kasar; atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi  engkau masih kejam; atau seseorang yang mudah mengampuni, tetapi engkau sendiri  masih suka menyimpan dendam; seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak…

Kemudian Tuhan berkata  “Adalah  lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau  membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semua itu. Pasanganmu akan  berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di  dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu. Aku tidak memberikan  pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang  yang dapat bertumbuh bersamamu.”

→ 1 CommentKategori: cinta

cinta dan nafsu

Oktober 16, 2008 · 17 Komentar

Dengan mengatasnamakan cinta, banyak terlihat dua anak manusia berlainan jenis (bukan muhrim) bercengkrama di jalan, di sekolah, di kamar kos dll. Pacaran seolah menjadi budaya (bukannya ngiri karena aku gak punya pacar sich, he3x…). Cuma agak prihatin aja. Saat ini, banyak yang lupa dengan batasan-batasan yang digariskan agama (agama Islam khususnya). Dan tidak sedikit yang sampai jatuh ke jurang perzinaan. Akhirnya, hubungan yang awalnya istimewa, menjadi penyebab terjadinya dosa besar dan hancurnya masa depan bagi pelakunya.  Apakah seperti itu yang dinamakan cinta? Begitu naifkah, kata cinta yang harusnya dijaga kesuciannya, menjadi ternoda. Lalu, benarkah itu cinta? Ataukah hanya nafsu yang terkamuflase?

Sebenarnya cinta adalah fitrah yang suci yang mengandung makna kasih sayang, keharmonisan, penghargaan dan kerinduan  disamping mengandung persiapan untuk menempuh kehiduapan dikala suka dan duka, lapang dan sempit. Cinta seorang laki-laki kepada wanita dan cinta wanita kepada laki-laki adalah perasaan yang manusiawi yang bersumber dari fitrah yang diciptakan Allah SWT di dalam jiwa manusia  yaitu kecenderungan kepada lawan jenisnya ketika telah mencapai kematangan pikiran dan fisiknya.

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri , supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih sayang .Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (Ar Rum ayat 21)

Jadi, ketika sepasang muda-mudi sedang asyik berduaan, sebenarnya cinta ataukah nafsu mereka yang berbicara? Apakah emosi ataukah akal sehat mereka yang lebih dominan?

Nama cinta bukanlah untuk sesuatu yang nista. Cinta adalah anugerah Yang Kuasa yang harus kita jaga kesuciannya. Jika kita mencintai kekasih kita, maka dengan cinta itulah kita menjaganya, bukan menodainya. Cinta selalunya suci dan mulia bila ia dimiliki oleh seorang pecinta sejati. Banyak kisah cinta yang menjadi legenda. Tajmahal yang indah di negeri India tercipta karena cinta. Rabiah Al Adawiyah menjadi legenda sufi wanita karena cintanya pada Sang Pencipta. Pasangan legenda Rama–Shinta, Romeo–Juliet, Kais–Laila, menjadi kisah sepanjang masa karena cinta mereka. Tidak ada kisah melegenda tentang nafsu yang tak terkendali dalam hubungan dua insan lain jenis tanpa ikatan pernikahan. Adanya hanyalah skandal, perselingkuhan, perzinaan, dan nama lain sejenis yang amoral.

Jadi, jangan katakan cinta jika kita tidak bisa memaknainya dengan makna yang sebenarnya. Jangan samakan cinta dengan nafsu hanya karena kita kurang kendali diri. Jangan mengkambinghitamkan cinta sebagai sarana pelampiasan nafsu. Dan yang lebih penting lagi, pergaulan bebas tak akan terjadi bila muda-mudi kita bisa memaknai cinta dengan sebenarnya dan memegang teguh ajaran agama dengan istiqomah (konsisten) sampai tiba masanya gerbang pernikahan terbuka.

“Tidak terlihat diantara dua orang yang saling mencintai (sesuatu yang sangat menyenangkan) seperti pernikahan” ( Ibnu Majah)

→ 17 CommentsKategori: cinta

APA ARTI KEBAHAGIAAN YANG SEBENARNYA???

Agustus 21, 2006 · 14 Komentar

Seseorang bisa bilang bahagia jika memperoleh kesuksesan dalam meniti karier, memiliki harta yang melimpah atau memperoleh istri yang cantik. Itukah arti bahagia yang aku cari? Bisa iya bisa tidak sich. Kenapa? Karena kebahagiaan seperti itu sifatnya relatif dengan K waktu.

Untuk saat ini bisa dibilang kebahagiaan itu yang paling dekat untuk diperoleh. Tapi apakah kebahagiaan itu sudah bisa diartikan sebagai kebahagiaan yang sebenarnya? Dengan tegas aku bilang tidak! Agak munafik emang! Tapi itulah kebenaran yang perlu kita yakini! Tidak cukup hanya memakai nalar! Memang kebahiaan macam itu seakan terasa nyata.

Kebahagiaan di atas adalah bahagia dunia. Dan perlu diketahui bahwa kebahagiaan di dunia porsinya sangat kecil dibanding dengan kebahagiaan di akherat. Bisa dibilang kebahagiaan dunia hanyalah 1% sedang kebahagiaan akherat adalah 99%. Sangat jauh kan! Jadi semua kebahagiaan yang kita peroleh di dunia ini masih jauh dengan arti bahagia yang sebenarnya (kebahagiaan akherat :Rec*).

Apakah kita akan meninggalkan 99% hanya untuk mendapatkan yang 1%. Mikir mas…..Bisa ngitung toh???

Tapi kalo kita bisa mengontrol yang 1% dan kita tetap tunduk serta bertawakal padaNya. Maka kita adalah termasuk orang2 yang beruntung. Karena selain memperoleh 1% kita juga bakal mendapatkan yang 99%. Sehingga lengkap sudang kebahagiaan kita menjadi 100%. Semoga aku termasuk dalam golongan orang2 yang beruntung. Amiin….

→ 14 CommentsKategori: bisikan hati